Bandara Mutiara Palu selepas check in sesaat sebelum boarding time aku berpamitan pada seluruh keluarga yang turut mengantar kepergianku. Ada Ayah, Ibu, Kakak, dan adik2...kupeluk dan kuciumi satu demi satu. Ada tangisan kesedihan karena berat terasa harus berpisah. Seumur hidupku tak pernah aku jauh dari mereka untuk waktu yang lama...Semua nangis kecuali Ayah...Hehehe...biar kutebak. Ayah pasti nangis tersedu-seduh tapi jauh dalam hatinya. Tak tampak namun kumelihat sorot kesedihan di matanya karena harus melepas anak perempuannya jauh di rantau orang.7.10 WITA, it's boarding time...seluruh keluarga melepas kepergianku dengan selaksa doa.
Sesaat sebelum take off, di dalam kabin pesawat, air matapun mengalir deras tak dapat kutahan perihnya perpisahan...aku akan hidup di Jakarta entah untuk berapa lama.
Jakarta, 01 Februari 2010
Sudah ditetapkan dalam garis tanganku (yang tertuang dalam SK Pengangkatan Ce Pe En Es) bahwa aku harus pindah ke Ibukota karena tuntutan pekerjaan.
Perasaan asing menyelimuti. Jakarta bukan baru pertama kalinya aku kunjungi. Akan tetapi perasaan asing ini muncul setelah Jakarta kemudian menjelma menjadi my second home town. Oh Apakah aku akan betah menjalani kehidupan di kota besar ini?? Bagaimana dengan pekerjaan baruku?? Apakah akan kutemukan teman yang baik, yang akan menjadi patner kerja dan tempat berkawan?? Dan pertanyaan yang terpenting...apakah jodohku berada di kota ini. The right man at the righ time yang tlah kunantikan selama ini?? hehehe...:blushing:
Oh Dear God...Ya Allah Ya Karim...sesungguhnya Engkau Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Tetapkanlah takdir ini menjadi sesuatu kebaikan bagiku, di dunia dan untuk akhiratku. Jagalah hamba di tengah hiruk pikuknya Ibukota, agar aku teguh di jalan-Mu...Amin...Amin Ya Rabbal alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar